Minggu, 17 Januari 2010

Impianku

Punya orang tua yang selalu me-nyayangiku, bisa belajar di sekolah dengan berbagai fasilitas, tidur di kasur yang empuk, terlindung dari dinginnya angin malam dan …
“Door!” teriak Rini membuyarkan lamunanku.
“Ngagetin aja kamu.” kataku.
“Nglamunin apa lagi sih? Kok kayaknya asik banget!”
“Ada aja, M-T-Z(mau tahu aja, salah satu kosakata yang ku-banggakan)”
“Rini, Iqbal, ada bus lewat, cepet naik, kita kan belum dapet uang dari tadi pagi.” teriak Budi.
Aku, Rini dan Budi segera meng-hentikan bus tersebut. Aku mengambil gitar kecilku dan mulai menyanyi.
“Kan kuabaikan sgala hasratku, agar kaupun tenang dengannya, kupertaruhkan semua ragaku demi dirimu bintang, biarkan ku me-nggapaimu, memelukmu, meman-jakanmu, tidurlah kau dipelukku, di-pelukku, dipelukku …”
“Satu tembang dari Anima kami lantunkan untuk anda, semoga selamat sampai di tujuan” kata Budi.
Rini langsung mengambil plastik bekas bungkus detergen yang kumal dari sakunya dan menyodorkan kepada penumpang bus. Bus berhenti di depan Balai Pelajar.
Di sebuah halte kecil kami meng-hitung uang yang kami dapat. Tiga ribu lima ratus rupiah, alhamdulillah. Ku lihat beberapa anak semumuranku berjalan dengan menggunakan seragam biru-putih. Mata tak kuasa menahan tangis.
Ingin rasanya aku berada diantara mereka, andaisaja ibu masih hidup, ayah tak akan membuangku dan aku tak akan menjadi pengamen seperti sekarang ini.
“Sedang apa kalian disini?” tanya se-orang lelaki.
“Kami sedang beristirahat dan menunggu bus.” jawabku.
“Mau pergi kemana?”
“Kemanapun, asalkan kami dapat mem-peroleh uang untuk makan.” jawab Budi.
“Kalian mengamen?”
“Iya.” jawabku.
“Memangnya orang tua kalian dimana?”
“Ibuku telah meninggal dan ayahku membuangku.”jawabku.
“Kalau aku dan Rani tidak tahu siapa orangtua kami, kami dibesarkan di Panti Asuhan sampai ada orang yang mengadopsi kami. Sampai kami mengetahui bahwa orang tersebut hanya ingin menjual kami. Kami bertemu Iqbal dan kami memutuskan untuk menjadi pengamen.” terang Budi.
“Kalian ingin sekolah tidak?”
“Sekolah?” seru kami bersamaan.
“Iya sekolah.” jelas orang itu.
“Sebenarnya kami ingin, tapi …” kata Rani.
“Biaya?” potong orang tersebut.
“Iya” kata Rani.
“Berapa rupiah akan kukeluarkan, asal-kan, kalian bisa sekolah.”
“Benarkah?” seru kami.
“Iya, kalian juga tak perlu mengamen dan tidur di jalan.”
“Terima kasih ayah.” kataku sambil memeluk orang itu.
“Kau ambil aku apa?” kata orang itu.
“Ayah.” jawabku sambil meneteskan air mata kebahagiaan.

Dua minggu kemudian …

Aku, Rini dan Budi keluar dari sebuah rumah yang mewah dengan mengendarai sepeda. Kami hendak berangkat menuju sekolah. Senang rasanya hati ini, tak bisa kugambarkan dengan kata-kata.
Dulu, pergi ke sekolah, tidur di kasur yang empuk, memiliki orangtua yang selalu mencurahkan kasih sayangnya serta terlindung dari dinginnya angin malam hanyalah sebuah impian belaka.
Namun kini, itu semua menjadi ke-nyataan. Terima kasih ya Allah, Kau telah mendengarkan keluh kesah hamba-Mu yang tak berdaya ini.

Kejutan Ulang Tahun

Pagi ini tak secerah biasanya, entah mengapa sajaknya matahari enggan menampakkan wajahnya. Walaupun begini, aku tetap ingin tersenyum dihari ini. Hari ini genap sudah usiaku 16 tahun. Memang secara umur, aku sudah beranjak dewasa, namun secara sikap, aku masih kekanak-kanakan, masih sepaerti anak SMP.

Kumulai rutinitasku dengan mengucap doa, tanda ketaqwaanku kepada sang pencipta. Kuberjalan menuju kamar mandi, kuraih shower. Beberapa menit kemudian, aku telah selesai dan segera kulaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Kini jam telah menunjukkan pukul 05.30, segera kusiapkan semua hal yang kubutuhkan hari ini.

Handphone-ku berdering, sebuah sms kuterima. Ternyata dari Sheryl, teman SMP-ku saat masih di Jakarta. Dia orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.

Jarak dari rumah hingga sekolahku memang tak jauh, hanya sekitar 1 kilometer dan biasa kutempuh dengan sepeda motor matic-ku. Bukannya aku ingin pamer dengan menaiki motor, namun aku hanya menghemat tenaga yang harus dikeluarkan oleh tubuhku yang rentan oleh penyakit ini.

“Pagi Pak” kusapa Pak Bejo, satpam sekolahku.

“Pagi Mbak” sahutnya.

Dengan segera kuparkir motor kecilku ini. Tempat parkir masih sepi dari penghuninya. Kuberjalan menuju kelasku, tepat di pojok sekolah, kelasku terkenal keangkerannya. Namun aku tak peduli dengan pendapat orang tentang ini. Yang terpenting aku bisa mendapatkan ilmu yang dapat mendukung masa depanku.

* * *

Waktu berjalan begitu lambat, pelajaran matematika kali ini hanya menambah kejenuhanku hari ini. Kubiarkan beberapa rumus logaritma keluar-masuk otakku. Yang kuharapkan pada hari ini hanyalah segera pulang dan menonton beberapa film yang telah kusewa kemarin.

Speaker yang terpasang di langit-langit keras memulai aksinya. Sebuah pengumuman pun dilantangkan, pengumuman ditujukan kepada PO, Paint Organisation. Pengumuman ini hanya membuat kejenuhanku bertambah, terpaksa ku-pending planning yang telah kususun.

Pelajaran usai, waktunya untuk berkumpul di Galery tiba. Ternyata ada perlombaan lukis pada akhir minggu ini. Tema yang akan dijadikan tolok ukur dalam perlombaan adalah Back to Nature. Entah mengapa, Kak Dido memilihku untuk mewakili sekolah kali ini.

Berbagai alasan kulontarkan untuk menolak permintaan Kak Dido. Sayangnya anggota PO yang lain menyetujui permintaan Kak Dido. Sebal, rasa yang kini ada dalam hatiku. Dengan berat hati, aku menerima permintaan Kak Dido.

Acara hari ini berakhir. Dengan segera kuberjalan keluar ruangan, namun di depan pintu, aku telah dihadang oleh beberapa anggota PO, aku diminta meletakkan tasku di bangku terdekat, dan mengikuti mereka ke suatu tempat.

Blur.... Beberapa liter air menghujam tubuhku. Tak berhenti sampai disitu, kini giliran bubuk putih yang menghantamku.

Dengan segera, anggota PO menyanyikan sebuah lagu, lagu yang ditujukan kepada seseorang yang sedang berulang tahun. Dari dulu, yang kuharapkan hanyalah ada orang yang menyanyikan lagu itu kepadaku.

Hari ini, impianku terwujud. Semua anggota PO tanpa kecuali menyanyikan lagu itu untukku. Dream come true, hal yang kualami siang ini. Semua rasa bercampur dihatiku, senang sedih, sebal, dan jenuh nge-blend jadi satu.

Tiba-tiba sebuah bingkisan besar ditujukan kepadaku. Bingkisan berwarna ungu, warna favorite-ku. So sweet, hal yang hanya bisa kuucap kali ini.