Punya orang tua yang selalu me-nyayangiku, bisa belajar di sekolah dengan berbagai fasilitas, tidur di kasur yang empuk, terlindung dari dinginnya angin malam dan …
“Door!” teriak Rini membuyarkan lamunanku.
“Ngagetin aja kamu.” kataku.
“Nglamunin apa lagi sih? Kok kayaknya asik banget!”
“Ada aja, M-T-Z(mau tahu aja, salah satu kosakata yang ku-banggakan)”
“Rini, Iqbal, ada bus lewat, cepet naik, kita kan belum dapet uang dari tadi pagi.” teriak Budi.
Aku, Rini dan Budi segera meng-hentikan bus tersebut. Aku mengambil gitar kecilku dan mulai menyanyi.
“Kan kuabaikan sgala hasratku, agar kaupun tenang dengannya, kupertaruhkan semua ragaku demi dirimu bintang, biarkan ku me-nggapaimu, memelukmu, meman-jakanmu, tidurlah kau dipelukku, di-pelukku, dipelukku …”
“Satu tembang dari Anima kami lantunkan untuk anda, semoga selamat sampai di tujuan” kata Budi.
Rini langsung mengambil plastik bekas bungkus detergen yang kumal dari sakunya dan menyodorkan kepada penumpang bus. Bus berhenti di depan Balai Pelajar.
Di sebuah halte kecil kami meng-hitung uang yang kami dapat. Tiga ribu lima ratus rupiah, alhamdulillah. Ku lihat beberapa anak semumuranku berjalan dengan menggunakan seragam biru-putih. Mata tak kuasa menahan tangis.
Ingin rasanya aku berada diantara mereka, andaisaja ibu masih hidup, ayah tak akan membuangku dan aku tak akan menjadi pengamen seperti sekarang ini.
“Sedang apa kalian disini?” tanya se-orang lelaki.
“Kami sedang beristirahat dan menunggu bus.” jawabku.
“Mau pergi kemana?”
“Kemanapun, asalkan kami dapat mem-peroleh uang untuk makan.” jawab Budi.
“Kalian mengamen?”
“Iya.” jawabku.
“Memangnya orang tua kalian dimana?”
“Ibuku telah meninggal dan ayahku membuangku.”jawabku.
“Kalau aku dan Rani tidak tahu siapa orangtua kami, kami dibesarkan di Panti Asuhan sampai ada orang yang mengadopsi kami. Sampai kami mengetahui bahwa orang tersebut hanya ingin menjual kami. Kami bertemu Iqbal dan kami memutuskan untuk menjadi pengamen.” terang Budi.
“Kalian ingin sekolah tidak?”
“Sekolah?” seru kami bersamaan.
“Iya sekolah.” jelas orang itu.
“Sebenarnya kami ingin, tapi …” kata Rani.
“Biaya?” potong orang tersebut.
“Iya” kata Rani.
“Berapa rupiah akan kukeluarkan, asal-kan, kalian bisa sekolah.”
“Benarkah?” seru kami.
“Iya, kalian juga tak perlu mengamen dan tidur di jalan.”
“Terima kasih ayah.” kataku sambil memeluk orang itu.
“Kau ambil aku apa?” kata orang itu.
“Ayah.” jawabku sambil meneteskan air mata kebahagiaan.
Dua minggu kemudian …
Aku, Rini dan Budi keluar dari sebuah rumah yang mewah dengan mengendarai sepeda. Kami hendak berangkat menuju sekolah. Senang rasanya hati ini, tak bisa kugambarkan dengan kata-kata.
Dulu, pergi ke sekolah, tidur di kasur yang empuk, memiliki orangtua yang selalu mencurahkan kasih sayangnya serta terlindung dari dinginnya angin malam hanyalah sebuah impian belaka.
Namun kini, itu semua menjadi ke-nyataan. Terima kasih ya Allah, Kau telah mendengarkan keluh kesah hamba-Mu yang tak berdaya ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar